Kita tidak bisa pungkiri keadaan saat-saat ini serba susah. Banyak keluarga-keluarga yang tidak dapat menyekolahkan anaknya karena keadaan ekonomi yang lemah, pendapatan yang tidak memadai sebagai pemicu kenapa anak-anak tidak disekolahkan, kalaupun ada kenaikkan pendapatan maka itu tidak seimbang dengan kenaikan kebutuhan pokok. Jika demikan apakah sekolah yang berpondasi pada pelayanan tidak dapat membuka pintu untuk mereka ? atau kita hanya akan mengandalkan donator ? pertanyaannya sampai kapankah donator akan membantu ? (pemikiran penulis) sebenarnya sekolah sekolah minus dapat menagani hal ini asal
Kerja sama yang baik antara Yayasan dan Sekolah
Satu tujuan
Dapat melihat kebutuhan yang ada di sekitar sekolah
Untuk point ke 3 dapat melihat kebutuhan yang ada disekitar tidaklah perlu seorang ahli. Asalkan ada satu tim yang memiliki hati untuk menjadi saluran berkat itu semua akan jalan. Berbagai contoh untuk hal ini misalkan :
Kantin sekolah/Koperasi sekolah
Setiap anak pasti diberi uang untuk jajan di sekolah, entah kecil atau besar pastilah orangtua akan membekalinya. Berilah tempat untuk mereka berwirausaha dengan menjual makanan/minuman, layanan fotocopy, penjualan vocer elektronik. Jika koperasi dikembangkan maka jadilah toko koperasi berba ada yang menyediakan penjualan sembilan kekebutuhan pokok. Dengan tujuan membantu biaya sekolah anak-anak pastilah para usahawan hasil bumi akan membantu dengan harga yang minimal, sehingga koperasi mendapat keuntungan.
Mengembangkan budidaya tanaman hias. Selain menguntungkan, sekolah juga asri dan indah
Budidaya perikanan : misalkan ikan Gurame, ikan Mas, Ikan Lele dll
Mengganti tanaman peteduh dengan yang bernilai jual misalkan : mengganti pohon akasiana yang tidak ada nilai jual dengan pohon mangga, sehingga ketika berbuah itu dapat dijual. Menurut pengalaman penulis biasanya satu tanaman mangga yang sedang berbuah akan dihargai kurang lebih 500.000 per pohon dan biasanya mangga akan berbuah paling tidak 2 kali dalam satu tahun. Coba bayangkan jika pendapatan 1 pohon mangga 1.000.000,-- dalam satu tahun dikalikan misalkan ada 50 pohon, maka hasilnya adalah 50.000.000,--
Berilah ketrampilan ektrakurikuler pada siswa yang punya nilai jual misalnya :
a. Sablon. : dengan menguasai sablon siswa dikembangkan membuat usaha percetakan untuk hal ini perlu tenaga guru yang menguasai percetakan sekolah. Usahanya adalah menangani pencetakan kop sekolah, kaos olah raga, sepanduk dll. Lingkupnya tidak hanya di dalam, jika dimungkinkan kembangkan usaha percetakan sampai ke luar missal mencetak kartu undangan pernikahan dll.
b. Elektronik : dengan memberdayakan ketrampilan elektronik siswa dapat menjual hasil karyanya atau dapat membuka tempat service.
c. Menjahit : dengan ketrampilan menjahit siswa akan berwirausaha, misalkan dapat bekerja sama dengan para usahawan yang bergerak dibidang disainer. Menjual seragam sekolah, dibandung atau tempat lainnya banyak yang menjual bahan yang kiloan dari situ dipilih untuk dibuat seragam dan hasilnya dijual.
Memanfaatkan jaringan internet sekolah menjadi warnet. Dari pada anak-anak mengunjungi warnet diluar maka lebih baik di tempat sendiri karena harga akan jauh lebih murah, system keamanan (dari situs porno) akan terbatasi dan terawasi.
Menyewakan lapangan olah raga (indoor) kepada luar yang sudah diketahui kredibilitasnya. Misalkan lapangan bulutangkis. Selain pendapatan diterima dari penyewaan maka kantin sekolah akan buka pendapatannya kembali akan menunjang sekolah khususnya siswa.
Memberdayakan Guru dengan membuka LPK pada malam hari, misalkan kalau guru computer, akan dibuka paket photo shop, corel draw dll (dalam hal ini diusahakan tidak ada kaitannya dengan nilai raport)
Membuka Kost-kost an untuk siswa dari luar kota. Banyak siswa dari luar kota yang bingung mencari kos-kosan, jika sekolah memfasilitasinya maka selain dapat keuntungan juga siswa tidak usah pusing mencari kos-kosan
Kayanya masih banyak peluang-peluang lainnya yang ada disekitar sekolah yang tidak dapat penulis lihat tetapi Bapak/Ibu dapat melihatnya.
Tulisan ini hanya bersifat buah pikir penulis ketika melihat betapa banyaknya saudara-saudara seiman kita yang tidak dapat membiayai anak-anaknya sekolah sehingga mereka hanya mengemis meminta penurunan uang sekolah atau pengurangan uang gedung. Jika usaha sekolah jalan, bisa jadi sekolah tersebut tidak akan dikatakan minus atau bersubsidi lagi, karena semua unsur bergerak untuk mengatasinya seperti yang dikatakan Yakobus 2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar